
Palembang, 09/7 (Sumselnian.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Selatan (Sumsel) memproyeksikan inflasi di wilayah itu terkendali sekitar 2,5 persen hingga akhir tahun 2025.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Bambang Pramono di Palembang, Rabu, mengatakan pada semester pertama tahun 2025, Sumsel mencatatkan inflasi 2,44 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka itu masih relatif terjaga di dalam kisaran level yang ditentukan yakni sebesar 2,5 persen secara nasional.
“Kami memperkirakan dengan capaian sepanjang semester I tahun ini, laju inflasi di Sumsel pada semester II masih akan berada di kisaran level tersebut,” katanya.
Meski demikian, terdapat hal yang perlu diantisipasi terutama terhadap perubahan harga pada kelompok komponen bergejolak (volatile food) dan administered price. Salah satu catatan yang dia berikan yaitu terkait kenaikan ongkos dan harga gas LPG, agar dampaknya tidak memberikan andil yang signifikan.
“Kita waspadai kenaikan harga, makanya kita koordinasi dengan pemerintah daerah agar kenaikannya bisa terjaga tidak tinggi di atas rentang itu,” jelasnya.
Ia mengatakan pantauan terhadap beberapa aspek pendorong inflasi perlu dilakukan sejalan dengan berlangsungnya momen-momen musiman yang juga mempengaruhi terdorongnya inflasi.
“Seperti misalnya saat Hari Besar Keagamaan Nasional, dan juga libur anak sekolah, kita jaga agar tidak tinggi inflasi pada momen tersebut,” kata Bambang.
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Setda Sumsel, Henky Putrawan mengatakan sejumlah catatan yang perlu menjadi perhatian masing-masing kabupaten dan kota dalam pengendalian inflasi.
Maka dari itu, setiap kabupaten dan kota diminta untuk mewaspadai terjadinya kenaikan inflasi di momen tahun ajaran baru serta momen Natal dan Tahun Baru pada Desember 2025.
Sedangkan, pada kelompok makanan komoditas yang perlu diantisipasi lonjakan harganya meliputi beras, bawang merah, dan juga cabai.
“Kenaikan harga ketiganya bisa dipengaruhi faktor cuaca, utamanya akibat musim hujan yang diprediksi datang lebih awal,” jelasnya.
Henky mengatakan setiap kabupaten dan kota melakukan upaya pengendalian inflasi melalui sejumlah langkah diantaranya ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, serta kebijakan pendukung.
“Bagi kabupaten dan kota juga harus mencari akar permasalahan dan solusi terkait penyebab kenaikan harga komoditas, karena Sumsel ini merupakan sentra produksi tetapi harga komoditas masih naik,” kata dia. (AN)